Kerja pada Sistem yang Tidak Ada Sistem itu F Banget!

certified-book-smart-now

Apa sih yang diinginkan oleh seorang freshgraduate setelah lulus kuliah? Mayoritas menginginkan untuk dapat bekerja di sebuah perusahaan -bonafit kalau perlu- dengan gaji yang, ya cukup okelah untuk seorang lulusan baru. Sebagian, ingin melanjutkan jenjang pendidikan S2, sebagian lagi meneruskan usaha keluarga, dan beberapa memutuskan menikah.

Saya manjadi salah satu bagian dari mayoritas yang kebetulan harus menyandang predikat sebagai seorang freshgraduate sekitar satu tahun, waktu yang cukup membuat Saya hampir putus asa. Dalam rentang waktu tersebut, Saya gunakan untuk menyelesaikan project freelance yang tertunda dan menyelesaikan project yang baru dan harus diselesaikan dalam beberapa hari, serta tentunya memasukan lamaran pekerjaan ke banyak perusahaan. Dan dari banyak perusahaan tersebut hanya beberapa perusahaan yang memanggil, dan tidak sedikit yang memberikan harapan palsu ketika proses interview selesai Saya jalani.

Singkat cerita, akhirnya Saya diterima di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang interior dan kontraktor, berlokasi di jalan majapahit, Jakarta Pusat. Posisi yang ditawarkan adalah sebagai drafter.

Drafter adalah orang yang bekerja dalam membuat gambar, Mereka lah yang membuat dan menyiapkan gambar-gambar kerja teknik, sehingga gambar tersebut bisa dengan jelas serta mudah dimengerti orang lain dan mudah dalam proses pembentukan objek gambar tersebut.” -alkonusa.com

*Saya harus menyampaikan kenyataan pahit ini.

Pada realitanya, yang Saya kerjakan adalah selain tugas pokok, menggambar dan menyiapkan gambar, saya juga dituntut untuk tahu mengenai proses produksi. Bahkan pernah, suatu ketika (baru beberapa hari masuk kerja) karena keperluan gambar untuk produksi, Saya terjun langsung ke workshop untuk menyerahkan gambar itu dan tertahan di sana untuk menerjemahkan gambar-gambar yang tercetak di setiap lembarnya.

*kondisi saat itu adalah projek sedang berjalan dan sebagian besar gambar yang Saya print, bukan Saya yang mengerjakan, jadi banyak yang Saya tidak tahu. Ketika tukang bertanya, mau tidak mau mereka akan mendapatkan gelengan atau ucapan “Saya ga tahu, bukan Saya yang gambar, waktu Saya dapat gambarnya sudah begitu”

Sebagai informasi tambahan, format gambar yang berada di tangan Saya, banyak yang Saya tidak temui ketika kuliah, jadi saat itu ketika tukang (produksi) bertanya, seperti orang bodoh Saya hanya dapat menggelengkan kepala.

Hal ini, masih kategori sepele. Tetapi, untuk menerjemahkan hal semacam ini seharusnya ada orang lain (bagian lain) untuk mengerjakannya, Fit Out misalnya. Kalau ada pegawai untuk bangian ini, rasanya akan lebih lancar.

*Nah hari ini, saya diminta untuk otak-atik desain, yang sudah pasti melenceng jauh dari tugas pokok seorang Drafter. Ini sih harusnya posisi gue JUNIOR ARSITEK! -_-+

Beban Saya kerja ini, sebenarnya selain beban sebagai ‘tukang gambar’ yang revisinya rasanya tak berujung juga beban moral ke orang-orang yang akan mendapatkan gambar-gambar tersebut. Bagaimana tidak beban moral, kalau proses produksi dalam hitungan menit akan dilaksanakan kemudian ada perintah dari atasan untuk ubah gambar? Gila gak? Iya gila! Di posisi ini membuat Saya tidak enak hati dengan orang-orang diproduksi. Kenapa? Karena mereka sudah siap kerja, kemudian dihentikan begitu saja. Apa nggak gondok? Dan kejadian ubah desain secara tiba-tiba ini bukan terjadi sekali dua kali, tapi ini sudah seperti siklus, kerap terjadi berulang kali.

Bahkan ada kejadian barang yang sudah selesai diproduksi, dan karena gambar diubah, harus produksi ulang. Kerjaan produksi yang diulang-ilang begini, ujung-ujungnya membuat tukang mengeluh bahkan bisa sampai ngambek, menghilang tanpa kabar. *Masa bodo kerjaan ga kelar-kelar, peduli setan!

Kalau perusahaan berani bayar besar untuk perkerja sih ya lumayan, minimal pekerja pasti akan banya yang manut tapi kan ini tidak. Uang lembur saja, ketika interview, dijanjikan ada. Tetapi mana? Kenyataan berbicara sebaliknya. *Udahlah gaji pas-pasan, uang lembur ga ada, asuransi macam BPJS aja ga ada juga -_-

Masih ada yang lebih gila lagi. Di bagian purchasing yang seharusnya hanya menangani masalah pembayaran barang, pekerjaannya malah melebar hingga harus cari barang dan ikut turun ke proses produksi. Yang mana, orang purchasing ini adalah lulusan dari manajemen yang notabene awam dengan gambar kerja. *terus dia turun ke produksi, disuruh liat gambar kerja… YA MANA NGERTI? NGAJAK BECANDA NGANA??!

Masih penderitaan orang purchasing, dia diminta cari barang, siapkan barang, ikut produksi, dan masih diikuti warning lainnya “murah! cepat! bagus!” mau dicari ke mana kriteria begini? susah say. Tak ubah layaknya mencari jarum ditumpukan jerami. Kalau perusahaan modalnya turah-turah sih oke, kriteria cepat dan bagus bisa selesai dalam sekejap, tapi ini? diminta juga untuk murah. Ini artinya baru untuk modal saja ditekan gila-gilaan. Ini main proyek bung, walaupun skala interior tetap akan butuh modal besar! Untuk mengejar kriteria murah, cepat, dan bagus, mimpi saja sana!

Di bagian lain, seperti sekretaris. Apa sih tugas sekretaris seharusnya? harusnya sebagian besar waktu kerjanya dihabiskan untuk mengatur jadwal dan pertemuan bos dengan klien dan lain-lain, namun di kantor ini? Ia merangkap finance/accounting, HRD, dan admin. Kurang bagus gimana lagi coba ini kantor?

Sekitar empat bulan Saya bekerja di kantor ini dan Saya masih tidak mengerti dengan sistem yang dijalankan oleh perusahaan yang sudah berdiri sejak tiga puluh tahun yang lalu ini. Benar! Untuk Anda yang membaca ini, Anda tidak salah lihat, perusahaan ini sudah ada sejak tiga puluh tahun yang lalu!

Dengan umur yang sudah terbilang matang harusnya perusahaan, yang sekarang Saya bekerja di dalamnya, sudah memiliki sistem kerja yang baik. Tidak seperti ini. Sistem kerja yang tidak jelas seperti ini, sepantasnya terjadi hanya pada perusahaan yang baru seumur jagung.

Ini baru tiga posisi yang Saya uraikan di blog, masih ada posisi-posisi lain yang jobdescnya juga tumpang tindih. Membuat lelah? Pasti. Bikin kesal? Tidak perlu ditanya lagi. Kecewa? saya pribadi kecewa, karena di awal interview tidak disebutkan bahwa pekerjaan Saya bisa seserabutan ini. Ada hikmah banyak sebenarnya di sini, yaitu bisa banyak belajar berbagai hal. Namun, hal-hal ini malah membuat karyawan merasa tidak dihargai dan dihormati, karena jelas owner menginginkan hasil bagus dengan mengenyampingkan kesejahteraan pekerjanya.

Perusahaan ini membuat Saya sadar, kematangan sistem di sebuah perusahaan tidak berdasarkan pada angkanya.

Bekerja pada perusahaan yang memiliki sistem yang tidak ada sistemnya itu, F banget!

Credit picture to its owner, not mine

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s