Arsitektur? Seni atau Teknik?

trend_arsitektur_saat_ini

Di tahun awal kuliah, mahasiswa baru, tentunya akan mendapatkan kuliah pengantar dari para dosen.

Berdasarkan pengalaman Saya saat itu, pengantar yang diberikan oleh dosen adalah deskripsi tentang arsitektur, mengingat Saya mengambil jurusan ini sebagai fokus pendidikan di perguruan tinggi.

Yang menarik, kenyataan bahwa tidak ada definisi atau deskripsi yang secara pasti menerangkan apakah arsitektur itu.

Pernah dilakukan semacam, kuisioner (kecil-kecilan) -pada satu mata kuliah(?) *sorry, Saya lupa mata kuliahnya– dengan variabel, orang awam dan profesional/arsitek. Hasilnya menunjukkan bahwa pemahaman arsitektur pada orang awam mayoritas berkenaan dengan unsur seni (dekorasi atau asesoris pemanis) dan proses menggambar untuk dapat menciptakan suatu bangunan. Sedangkan, pada kalangan profesional/arsitek, mayoritas menyinggung akan kebutuhan ruang untuk mewadahi aktivitas pengguna (user).

Kemudian juga, kecocokan akan keberadaan arsitektur di dunia pendidikan, apakah seharusnya masuk ke dalam pendidikan seni ataukah teknik?

Seni, karena untuk mewujudkan suatu karya guna menghindari kesamaan (plagiarisme), baik arsitek ataupun mahasiswa arsitektur, dituntut untuk membuat karya yang selalu berbeda walaupun dalam pembuatannya tetap akan mengacu pada suatu langgam/gaya tertentu, seperti baroque, renaissance, post-modern, modern, deconstruction, dll. Namun, dalam arsitektur tidak melulu bicara seni, karena harus ada logika yang digunakan untuk membuat konstruksi suatu bangunan agar dapat berdiri tegak, *demi menghindari terbangunnya Menara Pisa lain di bumi ini.

Mari kita bahas sedikit sisi seni dan teknik pada gedung terbangun, Sydney Opera House.

sydney-opera-house-2-rend-tccom-616-462

Sydney Opera House adalah bangunan yang terletak di Sydney, Australia, merupakan hasil desain dari Jorn Utzon yang berasal dari Denmark, diperuntukan sebagai kompleks teater dan hall yang saling terhubung di bawah konstruksi cangkang (shell) putih.

Ada cerita menarik yang Saya dapatkan dari seseorang, yaitu Perancang Sydney Opera House (Utzon), mendapatkan ide/konsep rancangannya ketika Ia sedang duduk-duduk santai di pinggiran Port Jackson. Dan seketika, ide tersebut langsung digoreskan ke selembar kertas tissue, yang kala itu memang Utzon tidak membawa buku atau alat tulis lain untuk dijadikan media gambarnya. Ide/konsep awal yang dibuat di selembar tissue itu menunjukkan adanya bangunan dengan bentuk seperti layar terkembang. Dan bentuk inilah yang selanjutnya membuat Sydney Opera House masyur hingga saat ini.

Proses konsep ini, dapat dikatakan sebagai bagian dari proses seni yang terjadi. Di mana arsitek bisa mendapatkan ide, gagasan, ilham, wangsit(?), apapun itu nama yang cocok untuk disematkan, di waktu dan tempat yang tidak terduga. Hal ini menjadi bukti bahwa proses yang dijalani oleh arsitek tidak jauh bedanya dengan proses pencarian ‘ilham’ bagi seniman yang bergerak di bidang lukis, musik, tari , dll. yang juga bisa mendapatkan ide secara mendadak ataupun direncanakan.

opera-house-685w

Dari gambar di atas, sebenarnya sudah cukup menggambarkan proses teknik/teknis seperti apa yang terjadi. Akan Saya coba jelaskan sesuai kemampuan terbatas yang Saya miliki.

Pada beberapa paragraf sebelumnya, Saya menyebutkan bahwa diperlukan logika berpikir untuk dapat membangun sebuah konstruksi pada suatu bangunan. Tentunya konstruksi yang diharapkan merupakan sebuah konstruksi yang rigid (kokoh).

Pada kasus Sydney Opera House, untuk dapat membuat bangunan yang berbentuk seperti layar terkembang, konstruksi yang diaplikasikan di sini tidak dapat disamakan dengan konstruksi bangunan lainnya, seperti hunian, khususnya pada bagian penutup atap. *sewaktu kuliah, atap adalah salah satu momok yang paling sulit untuk mendapatkan solusinya, kalau sudah mentok, ujung-ujungnya pakai atap andalan, DAK BETON :p

Menurut Saya, ada beberapa konstruksi atap lain yang kala itu bisa saja dipilih selain cangkang (shell), seperti tenda/membran dan baja (Space Frame), namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya struktur kosntruksi shelllah yang dipilih dan hingga sekarang dapat kita lihat keagungan dari konstruksi tersebut. Dan harus diakui, ini merupakan pilihan yang cerdas, karena konstruksi shell inilah yang membuat Sydney Opera House sangat berbeda, bahkan pada 28 Juni 2007, Sydney Opera House ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Mungkin akan berbeda akhirnya, bila yang dpilih bukan struktur shell.

Proses struktur kontruksi inilah yang membuat karya seorang arsitek menjadi begitu teknik, karena banyak melibatkan cabang ilmu lain. Misalnya, adanya keterlibatan ahli sipil yang menghitung kekuatan suatu struktur sebelum konstruksi itu dibangun, yang selain itu juga pasti memberikan pilihan-pilihan struktur konstruksi lain sebagai opsi altenatif. Lalu, ahli geodesi yang memberikan analisa terhadap kondisi tanah/daratan yang akan digunakan sebagai lokasi pembangunan. Dan, adanya keterlibatan ahli lingkungan yang memberikan analisa pada dampak apa saja yang terjadi ketika proses pembangunan tengah berlangsung ataupun setelahnya, serta solusi-solusi yang dapat dilakukan.

Bagi orang awam, sebenarnya pengkategorian arsitektur itu seni atau teknik tidaklah begitu penting. Namun, isu ini merupakan salah satu bahasan yang tidak ada habisnya diulas oleh kalangan yang bergerak di dunia pendidikan bahkan arsitektur itu sendiri.

Praktiknya bila dilihat pada pendidikan Indonesia, arsitektur ditempatkan sejajar dengan jurusan yang tergabung dalam fakultas teknik, seperti teknik mesin, teknik, perkapalan, teknik sipil, dll. yang dikenal sebagai jurusan ‘keras’. Hal ini tentu kontradiksi dengan arsitektur yang sering memasukkan unsur seni pada tugas-tugasnya.

*Sebagai informasi, orang-orang yang sering berkutat dengan seni, mayoritas dianggap lembek.

Untuk beberapa orang ketika dilemparkan isu ini akan mengatakan bahwa Arsitektur sebenarnya lebih cocok untuk berdiri sebagai satu fakultas bukan sebagai jurusan/prodi. Kemudian sebagai penunjang diikutsertakan teknik sipil dan tata kota di dalamnya.

Kalau menurut Saya pribadi, Arsitektur itu bunglon. Di tempat dan waktu tertentu dia akan menjadi karya seni yang banyak disanjung karena tampilannya yang memukau. Atau dia akan menjadi sebuah mega proyek yang penuh perhitungan dengan melibatkan banyak ahli karena menyangkut hajat orang banyak.

Menurut kamu?

 

Credit Picture: archipost.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s